TERORISME dan FREEMANSORY

TERORISME dan FREEMANSORY
Oleh : Ibnu Muzab Ary
Pegawai staff keuangan kemenag Aceh Timur

OSAMA BIN LADEN…. adalah cerita yang harus di the end oleh Amerika, selanjutnya Amerika akan membuat serial cerita terorisme jilid baru. Sama halnya dengan terorisme di Indonesia. Terorisme adalah isu pengganti dari isu keamanan model konflict di Maluku, Poso, Papua, dan Aceh di periode kepemerintahan yang lalu. Penciptaan conflict setelah tumabngnya gedung TWC di Amerika ini bias dilihat mulai dari bom teror di Bali. Barang bukti berupa video keamanan pada saat meledaknya bom justru diekposes habis-habisan oleh media massa. Padahal sejati-nya itu adalah barang bukti yang bisa diperlihatkan ke publik nanti saat pengadilan. Namun nyata nya, video ini terus diputar agar mindset teror makin berkembang. Jika teror sudah merajalela maka masyarakat pun butuh rasa aman yang tinggi; disamping nantinya dibutuhkan undang-undang yang mendukung injelijen dan keamanan yang kuat model zaman Soeharto. Maka isu ini juga efektif sebagai pencitraan bahwa calon presiden selanjutnya adalah yang mampu menangani teror ini. Dan itu tentu adalah militer. Ibarat gayung bersambut beginilah cerita keamanan menjadi bumbu politik diindonesia.
Lalu apa maknanya teroris yang tadi katanya benci pada Amerika kemudian menjadi bom buku sebagai kelanjutan aksinya, selanjutnya malah menyerang masyarakat yang sedang sholat di mesjid. Kenyataan ini bias diambil kesimpulan sebagai citra yang perlu dimunculkan agar masyarakat melihat bahwa terorisme saat ini bukan hanya bicara benci Amerika, tapi mereka adalah sebuah gerakan radikal dan barbar. Mereka tidak melihat anda seorang Islam atau tidak dan Anda benci Amerika . Ini maksud yang tersembunyi dari berita mesjid akhirnya meledak saat sekian jamaah sedang menunaikan ibadah sholat wajib di Cirebon. Lalu kiranya siapa gerangan yang berani menjadi korban untuk membawa bom tersebut ke mesjid? Kenyataan nya masyarakat sekarang yang juga gampang dibodohi banyak yang bias digerakkan. Entah orang yang meledakkan karena ingin melunasi hutang keluarganya ataupun dia hanya kurir yang diminta membawa sebuah paket tanpa mengetahui isi paket serta mendapat imbalan sekian rupiah, itu semua bias terjadi. Yah, kemiskinan dapat ditukar dengan segalanya termasuk iman, apalagi untuk sekedar harta.
Maka setelah bom mesjid dan citra nya terorisme ini akan menyerang siapa saja selanjutnya yang tercipta adalah konflict horizontal antar masyarakat pun muncul. Semua masyarakat akan semakin waspada. Waspada dan curiga dengan tetangga dan lingkungannya. Setelah itu siapa yang paling pantas dicurigai. Maka muncullah isu NII. Ini adalah isu lama. sejak 10 tahun yang lalu isu NII sudah ada di Indonesia. Namun isu ini diangkat kembali. Jadi yang pantas dicurigai adalah mereka siapa saja yang militan dan radikal serta berkeinginan menegakkan atau mendirikan negara Islam. Ini lah sang peneror yang dicitrakan. Peneror ini akan membumi hanguskan siapa saja, termasuk umat islam itu sendiri jika tidak mendukung negara Islam berdiri. Tujuan akhir dari cerita terror ini adalah agar masyarakat tak bersatu. Dalam kausul perjanjian freemansory, jelas dituliskan bahwa freemansory menginginkan Negara-negara yang mayoritas berpenduduk Islam agar tidak menjadi kuat. Apakah itu institusi pemerintahannya maupun sosiokemasyarakatan-nya. Cara pelemahan pemerintahan adalah dengan pengkerdilan fungsi presiden, sebagai lembaga pemerintahan semodel dengan Bank Indonesia yang independent dari pemerintahan lalu budaya masyarakat nya pun dijajah setelah struktur masyarakatnya yang kuat porak-poranda. Semodel dengan MUI yang mulai kehilangan wibawa-nya. Semodel pula Kiay/Ulama zaman sekarang yang mulai kurang terakui dalam keberadaan masyarakat sebagai penengah krisis masyakarat seiring dengan bebas nya informasi. Setelah strukturnya lemah, maka budaya bebas ala Amerika pun mudah masuk ke Indonesia dan hancurlah negara ini tanpa ada saringan yang berarti atas budaya yang diekspor tersebut.
Dari kacamata awam ini, sebagai sebuah sudut pandang maka bagi institusi keagamaan semisal dibawah koordinasi Kementrian Agama perlu memahami betul bahwa perannya di masyarakat sangat dibutuhkan. Kita perlu bergerak dengan aktif agar masyarakat bersatu dan tidak gampang untuk dipengaruhi oleh zaman. Bagaimana kebiasaan masyakat sekarang yang keluar malam dengan non-muhrimnya pun menjadi salah satu agenda yang perlu untuk segara disikapi oleh kita sebagai penjaga pintu budaya dan lingkungan masyarakat kita. Waasalam, Asstaghfirullahil’adhiim.

This entry was published on 3 Mei 2011 at 12:57 PM and is filed under Uncategorized. Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

One thought on “TERORISME dan FREEMANSORY

  1. saleum meuturi keu sesama blogger idi rayeuk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: